Episode 2
Hari senin seusai upacara bendera, kepala sekolah mengumumkan
beberapa pengumuman penting, diantaranya adalah pengumuman siapa peringkat 3
besar pararel, artinya akan diumumkan 3 anak yang nilainya tertinggi di antara
anak – anak kelas 1 secara keseluruhan, dari kelas 1A- 1G, dan tanpa disangka
cahaya firdausia mendudukan peringkat 1 pararel, dari ihak sekolah memberikan
masing – masing bingkisan cantik yang isinya buku dan pena, bea siswa bebas
uang SPP juga diberikan pada masing – masing juara dengan jumlah sesuai
peringkat masing – masing.
Guru yang menjadi idola setiap murid kelas 1 waktu itu adalah pak
Ali Musyafak. Beliau guru mata pelajaran fiqih. Selain mengajar fiqih juga
membina kegiatan ekstrakulikuler pramuka di madrasah. Setiap hari jum’at kami
dibina olehnya dengan dibantu beberapa kakak senior. Anak – anak kelas satu
diwajibkan mengikuti ektrakulikuler pramuka, jadi aya dkk juga mengikuti apa
yang menjadi kewajibannya. Pada awalnya memang terasa berat, gimana gak berat
disaat harusnya bisa istirahat dirumah, eh kita malah disuruh datang ke sekolah,
panas terik mentari kadang membuat rasa malas yang teramat sangat.
“siapa diantara adik – adik disini yang ingin masuk jadi regu inti?”
tanya kakak pembina
“saya kak” jawab kami
“tolong yang berniat melanjutkan sampi jadi regu inti keluar dari
barisan!”
Aya, hesti, lina, vina maju
keluar barisan dan membuat barisan baru disamping kanan.
Dengan penuh keyakinan aya berada di barisan paling depan.
Hari ini ujian TKK, ada beberapa tes yang harus kami ikuti. Ada
ujian memasak, menjahit, menaksir(tapi bukan menaksir orang lho…), menabung,
menyanyi dll. Ketika ujian menjahit aya paling meragukan untuk selanjutnya bisa
lolos, karena waktu itu kami dikasih benang dan jarum dan disuruh membawa baju
seragam pramuka ganti, pertama kancing di baju disuruh copot semua, kami
terbengong, apa coba maksudnya kemarin disuruh cepet – cepet bawa seragam
pramuka yang baru, eh sekarang malah suruh nyopot kancingnya. Dan instruksi
kedua kami disuruh memasukkan benang jarum.
“aduh susah sekali sih masukin benangnya” ungkap aya pada teman
sebelahnya.
“pelan – pelan donk ay, sabar, pasti bisa”
“ini udah pelan – pelan dan sabar, tapi tetep aja gak bisa masuk
benangnya, gimana donk”.
“pinjem gunting sana sama kak tyo”
“gak ah aku malu”
“ada apa ini, kok dari tadi kakak perhatikan kalian sedang
berdiskusi, gimana ada yang bisa dibantu?”
“5 menit lagi waktu habis”
“ayo aya, tinggal kamu nih yang belum selesai”
“iiiiya kak”
“sini kakak bantu”kak Faiz akhirnya turun tangan.
“oh akhirnya bisa juga, terima kasih ya kak!”.
“iya sama – sama”. ....... bersambung.