Pages

Kamis, 22 Desember 2011

Episode 1 SMPku fantastis




SMPku fantastis
Madrasah Tsanawiyah Negeri Bawu itulah sekolah menengah pertama yang akhirnya aya masuki. Tak disangka sebelumnya bisa masuk sekolah Islam. Entahlah kala itu setelah lulus dari Sekolah Dasar cita – cita aya adalah masuk sekolah negeri, waktu itu aya ingin masuk SMP N 2 Jepara, yang terkenal favorit dan didambakan setiap anak, dan aya salah satu anak yang mendambakan dapat masuk kesana. Tapi ternyata Allah berkata lain, aya akhirnya masuk Madrasah Tsanawiyah Negeri yang terletak di pedalaman desa. Walaupun terletak dipedalaman, namun madrasah ini sangat terkenal kualitasnya. Aya bersama anak- anak satu almamater di sekolah dasar desanya banyak yang menjatuhkan pilihan ke madrasah ini.
            Perjalanan yang harus ditempuh dari rumah sampai madrasah kira kira selama 30 menit, kakak sepupu aya juga sekolah di Madrasah yang sama. Jadi setiap pagi mereka berangkat bersama jalan kaki dari rumah sampai ke halte angkutan umum. Jam 06.15 biasanya aya sudah siap di depan rumah sambil menggendong tas hijau kesayangannya.
“Mbak ayo udah siap belum? Ntar aku telat lagi, ini kan hari pertamaku”.tariak aya memanggil kakak sepupunya yang tinggal 3 rumah disebelah rumahnya.
“Iya tunggu sebentar, aku baru make kerudung nih”sahut mbak rizma dari dalam rumah.
Perjalananpun dimulai, 2 gadis berkerudung putih berjalan dengan penuh semangat melewati kompleks perumahan yang mulai ramai dengan hilir mudiknya para pekerja yang hendak bekerja di gudang - gudang meubel. Dan tepat pukul 06.30 aya dan rizma sampai di halte angkutan umum, setelah menunggu penumpangnya penuh akhirnya bang supir menjalankan kemudinya membawa penumpangnya menuju tujuannya masing – masing.
            Hari pertama masuk sekolah, aya memakai pakaian seragam yang belum saatnya dipakai, yang sudah selesai dijahit baru atasan putih dan bawahan coklat. Meskipun bukan jodohnya namun aya memaksa memakainya.
“ Daripada harus memakai seragam merah putih mendingan kupakai apa yang sudah jadi”. Dengan Penuh percaya diri aya masuk kekelas 1A, kelas dimana nama cahaya firdausia tertulis di depan pintu kelasnya. Karena masih asing dengan teman – teman barunya, aya terkesan pendiam di kelas, untungnya aya masih bisa satu kelas dengan novi teman SDnya, dialah satu – satunya anak yang dikenalnya waktu itu, karena dari SD aya selalu menjadi juara kelas disetiap tahunnya, di madrasah iapun tak mau kalah dengan teman satu kelasnya.
“aya ayo coba kerjakan soal di depan.”seru pak heru guru marematika yang bersuara lembut dan merdu itu.
“iya pak” jawab aya dengan penuh percaya diri.
Dengan pelan namun pasti aya menyelesaikan soal yang diberikan pak heru.
Aya paling suka pelajaran eksak, matematika, dan fisika menjadi mata pelajaran favoritnya, apalagi gurunya juga sangat enak jika menerangkan pelajaran.
Pak Sumaryo menerangkan pelajaran fisika dengan begitu sabarnya, gayanya yang memukau membuat kami khususnya aya betah lama – lama dikelas. Nama – nama siswa yang aktif maju di kelas selalu diingatnya, bahkan yang aktif membuat ricuhpun juga diingatnya.
Jam 13.30 aya keluar dari kelas, bersama teman temannya, novi, tika, isti dkk setiap hari menunggu angkutan umum yang lewat untuk mengantar mereka pulang sekolah.
“mana ya kok dari tadi angkutan umumnya penuh terus ya?”keluh tika dengan nada agak sewot.
“iya kan anak kelas 2 sama kelas 3 nunggu angkotnya jauh disana jadi mereka tentunya yang dapat angkutan umum lebih dulu, sabar aja deh”aya membuka suara.
Ulangan umum tinggal 2 hari lagi, namun aya tak sepanik temen – temennya yang lain. Saat anak – anak 1A sibuk minjem catetan kesana kemari, aya sudah nyicil belajar bahan ulangan. Meskipun harus perang dulu dengan sang ibu, bagaimana tidak terjadi perang, pulang sekolah baca buku, habis mandi baca buku, habis sholat baca buku, sebelum makan juga baca buku, jadi pantas gak bila ibu aya marah – marah karena yang biasanya aya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, ketika musim ulangan umum tiba, fokus dan perhatian aya hanya untuk belajar.
“aya tolong beliin ibu gula putih di warung depan!”.
Beberapa menit berlalu, tak ada suara langkah kaki yang datang menuju tempat  berdiam sang ibu.
“aya…….”.
“kemana sih aya kok dipanggil – panggil gak nyahut?.”
Ibu ani berjalan perlahan namun pasti, kepastian yang menunjukkan ketidak senangan dengan apa yang dilakukan sang putri.
“astaghfirullah, kamu disini, apa kamu tidak mendengar panggilan ibumu ini!”.
“oh ibu memanggilku, ada apa ya bu!”.
“aduh dari tadi ibu udah teriak – teriak, kamu malah disini santai – santai seperti tidak ada apa – apa!”.
“memang kamu tidak lagi bermain, kamu memang lagi belajar, tapi belajar juga harus tahu waktu dan tahu tempat.”
Hampir setiap ada waktu senggang aya gunakan untuk belajar belajar dan belajar.
“aku punya mimpi dan cita – cita, dan semua itu akan terwujud jika aku sekarang berjuang kalau perlu dengan segala kemampuan yang aku miliki, aku ingin bisa merubah apa yang terjadi sekarang”.
Tak sengaja bunda aya mendengar apa yang baru saja diucapkan aya.
“memang apa sih yang menjadi mimpi dan cita – citamu nduk…? Sampai makanpun kamu gak sempat, apalagi bantuin ibu, demi karena ingin belajar”.
“ehm..ehm…”.
“sebenarnya ini sebuah rahasia, this is the secreat..”.
“ngomong apa lagi kamu barusan?”.
“oalah buk..maksud aya ini sebenarnya sebuah rahasia,tapi kalau memang ibu pengen tahu, sebenarnya   rahasia itu adalah?????”
“impian dan cita – citaku buanyak banget sampai aku telah nulis di buku diaryku dan itu menghabiskan 5 halaman penuh”
“wah – wah emang kamu nulis apa aja?boleh ibu lihat?”
“gimana ya?????????”
“tentu aja boleh dong buk..sebentar ya aku ambil buku rahasiaku”
Setelah menunggu dengan penuh rasa penasaran ibu ani tersenyum menyambut kedatangan sang anak yang datang membawa daftar impiannya.
“ni dia bukunya.”
“coba ibuk lihat sini.”
“bisa kuliah di kota pelajar Yogyakarta, membiayai kuliah sendiri, punya tabungan, pergi ke Jakarta, pergi ke Bali, beli handy cam, beli ponsel polyphonic, S1 dalam waktu maksimal 3,5 tahun, lulus dengan IP cumload,3,90, fasih berbahasa arab, bea siswa S2 di kairo, jadi dosen, naik haji, buka butik muslimah.”
“aduh banyak sekali daftar keinginan dan impianmu, dan semuanya sangat tinggi ay”
“maksud ibu, aya gak mungkin bisa mewujudkan mimpi – mimpi aya gitu?”
“bukan begitu, dengerin ibuk dulu, siapapun boleh bermimpi dan bercita – cita, impianmu sungguh luar biasa, Cuma pesen ibuk, jangan pernah kecewa kalau kamu gak bisa mewujudkan semua itu, yakinlah sesungguhnya rencana Allah lebih indah dari rencana hambanya.”
“oooh gitu ya buk, aya janji satu demi satu akan mewujudkan mimpi – mimpi itu, yang penting ridhoi aya ya buk.”
Aya memang sering bertukar pikiran dengan sang ibu, meskipun ibu aya hanya lulusan SMK tapi beliau sangat berkarakter, dan teman cerita yang obyektif. Mungkin karena aya adalah anak gadis satu – satunya di keluarga dan karena aya adalah anak pertama, jadi dia dekat sama ibu dan ayahnya juga.
“gimana, kalian tadi bisa ngerjain kan?”tanya aya pada isti, anak kelas 1F yang rumahnya tidak jauh dari rumahnya.
“alhamdulillah aku tadi bisa tapi ada satu belum aku isi, tadi yang nomer 25 itu lho”.
Begitulah setiap pulang sekolah yang dibahas adalah jawaban dari soal – soal ulangan yang baru saja mereka kerjakan. Bersambung ...............

0 komentar:

Posting Komentar