SMPku
fantastis
Madrasah
Tsanawiyah Negeri Bawu itulah sekolah menengah pertama yang akhirnya aya
masuki. Tak disangka sebelumnya bisa masuk sekolah Islam. Entahlah kala itu
setelah lulus dari Sekolah Dasar cita – cita aya adalah masuk sekolah negeri,
waktu itu aya ingin masuk SMP N 2 Jepara, yang terkenal favorit dan didambakan
setiap anak, dan aya salah satu anak yang mendambakan dapat masuk kesana. Tapi ternyata
Allah berkata lain, aya akhirnya masuk Madrasah Tsanawiyah Negeri yang terletak
di pedalaman desa. Walaupun terletak dipedalaman, namun madrasah ini sangat
terkenal kualitasnya. Aya bersama anak- anak satu almamater di sekolah dasar desanya
banyak yang menjatuhkan pilihan ke madrasah ini.
Perjalanan
yang harus ditempuh dari rumah sampai madrasah kira kira selama 30 menit, kakak
sepupu aya juga sekolah di Madrasah yang sama. Jadi setiap pagi mereka
berangkat bersama jalan kaki dari rumah sampai ke halte angkutan umum. Jam
06.15 biasanya aya sudah siap di depan rumah sambil menggendong tas hijau
kesayangannya.
“Mbak ayo udah siap belum? Ntar aku telat lagi,
ini kan hari pertamaku”.tariak aya memanggil kakak sepupunya yang tinggal 3
rumah disebelah rumahnya.
“Iya tunggu sebentar, aku baru make kerudung nih”sahut
mbak rizma dari dalam rumah.
Perjalananpun dimulai, 2 gadis berkerudung putih berjalan
dengan penuh semangat melewati kompleks perumahan yang mulai ramai dengan hilir
mudiknya para pekerja yang hendak bekerja di gudang - gudang meubel. Dan tepat pukul
06.30 aya dan rizma sampai di halte angkutan umum, setelah menunggu
penumpangnya penuh akhirnya bang supir menjalankan kemudinya membawa penumpangnya
menuju tujuannya masing – masing.
Hari
pertama masuk sekolah, aya memakai pakaian seragam yang belum saatnya dipakai,
yang sudah selesai dijahit baru atasan putih dan bawahan coklat. Meskipun bukan
jodohnya namun aya memaksa memakainya.
“ Daripada harus memakai seragam merah putih
mendingan kupakai apa yang sudah jadi”. Dengan Penuh percaya diri aya masuk kekelas 1A, kelas dimana nama cahaya firdausia
tertulis di depan pintu kelasnya. Karena masih asing dengan teman – teman
barunya, aya terkesan pendiam di kelas, untungnya aya masih bisa satu kelas dengan
novi teman SDnya, dialah satu – satunya anak yang dikenalnya waktu itu, karena
dari SD aya selalu menjadi juara kelas disetiap tahunnya, di madrasah iapun tak
mau kalah dengan teman satu kelasnya.
“aya ayo coba kerjakan soal di depan.”seru pak
heru guru marematika yang bersuara lembut dan merdu itu.
“iya pak” jawab aya dengan penuh percaya diri.
Dengan pelan namun pasti aya menyelesaikan soal
yang diberikan pak heru.
Aya paling suka pelajaran eksak, matematika, dan
fisika menjadi mata pelajaran favoritnya, apalagi gurunya juga sangat enak jika
menerangkan pelajaran.
Pak Sumaryo menerangkan pelajaran fisika dengan
begitu sabarnya, gayanya yang memukau membuat kami khususnya aya betah lama –
lama dikelas. Nama – nama siswa yang aktif maju di kelas selalu diingatnya,
bahkan yang aktif membuat ricuhpun juga diingatnya.
Jam 13.30 aya keluar dari kelas, bersama teman
temannya, novi, tika, isti dkk setiap hari menunggu angkutan umum yang lewat untuk
mengantar mereka pulang sekolah.
“mana ya kok dari tadi angkutan umumnya penuh
terus ya?”keluh tika dengan nada agak sewot.
“iya kan anak kelas 2 sama kelas 3 nunggu
angkotnya jauh disana jadi mereka tentunya yang dapat angkutan umum lebih dulu,
sabar aja deh”aya membuka suara.
Ulangan umum tinggal 2 hari lagi, namun aya tak
sepanik temen – temennya yang lain. Saat anak – anak 1A sibuk minjem catetan
kesana kemari, aya sudah nyicil belajar bahan ulangan. Meskipun harus perang
dulu dengan sang ibu, bagaimana tidak terjadi perang, pulang sekolah baca buku,
habis mandi baca buku, habis sholat baca buku, sebelum makan juga baca buku,
jadi pantas gak bila ibu aya marah – marah karena yang biasanya aya membantu
menyelesaikan pekerjaan rumah, ketika musim ulangan umum tiba, fokus dan
perhatian aya hanya untuk belajar.
“aya tolong beliin ibu gula putih di warung depan!”.
Beberapa menit berlalu, tak ada suara langkah kaki
yang datang menuju tempat berdiam sang
ibu.
“aya…….”.
“kemana sih aya kok dipanggil – panggil gak nyahut?.”
Ibu ani berjalan perlahan namun pasti, kepastian
yang menunjukkan ketidak senangan dengan apa yang dilakukan sang putri.
“astaghfirullah, kamu disini, apa kamu tidak
mendengar panggilan ibumu ini!”.
“oh ibu memanggilku, ada apa ya bu!”.
“aduh dari tadi ibu udah teriak – teriak, kamu
malah disini santai – santai seperti tidak ada apa – apa!”.
“memang kamu tidak lagi bermain, kamu memang lagi
belajar, tapi belajar juga harus tahu waktu dan tahu tempat.”
Hampir setiap ada waktu senggang aya gunakan untuk
belajar belajar dan belajar.
“aku punya mimpi dan cita – cita, dan semua itu
akan terwujud jika aku sekarang berjuang kalau perlu dengan segala kemampuan
yang aku miliki, aku ingin bisa merubah apa yang terjadi sekarang”.
Tak sengaja bunda aya mendengar apa yang baru saja
diucapkan aya.
“memang apa sih yang menjadi mimpi dan cita –
citamu nduk…? Sampai makanpun kamu gak sempat, apalagi bantuin ibu, demi karena
ingin belajar”.
“ehm..ehm…”.
“sebenarnya ini
sebuah rahasia, this is the secreat..”.
“ngomong apa lagi kamu barusan?”.
“oalah buk..maksud aya ini sebenarnya sebuah
rahasia,tapi kalau memang ibu pengen tahu, sebenarnya rahasia itu adalah?????”
“impian dan cita – citaku buanyak banget sampai
aku telah nulis di buku diaryku dan itu menghabiskan 5 halaman penuh”
“wah – wah emang kamu nulis apa aja?boleh ibu
lihat?”
“gimana ya?????????”
“tentu aja boleh dong buk..sebentar ya aku ambil
buku rahasiaku”
Setelah menunggu dengan penuh rasa penasaran ibu
ani tersenyum menyambut kedatangan sang anak yang datang membawa daftar impiannya.
“ni dia bukunya.”
“coba ibuk lihat sini.”
“bisa kuliah di kota pelajar Yogyakarta, membiayai
kuliah sendiri, punya tabungan, pergi ke Jakarta, pergi ke Bali, beli handy
cam, beli ponsel polyphonic, S1 dalam waktu maksimal 3,5 tahun, lulus dengan IP
cumload,3,90, fasih berbahasa arab, bea siswa S2 di kairo, jadi dosen, naik
haji, buka butik muslimah.”
“aduh banyak sekali daftar keinginan dan impianmu,
dan semuanya sangat tinggi ay”
“maksud ibu, aya gak mungkin bisa mewujudkan mimpi
– mimpi aya gitu?”
“bukan begitu, dengerin ibuk dulu, siapapun boleh
bermimpi dan bercita – cita, impianmu sungguh luar biasa, Cuma pesen ibuk,
jangan pernah kecewa kalau kamu gak bisa mewujudkan semua itu, yakinlah
sesungguhnya rencana Allah lebih indah dari rencana hambanya.”
“oooh gitu ya buk, aya janji satu demi satu akan
mewujudkan mimpi – mimpi itu, yang penting ridhoi aya ya buk.”
Aya memang sering bertukar pikiran dengan sang
ibu, meskipun ibu aya hanya lulusan SMK tapi beliau sangat berkarakter, dan
teman cerita yang obyektif. Mungkin karena aya adalah anak gadis satu – satunya
di keluarga dan karena aya adalah anak pertama, jadi dia dekat sama ibu dan
ayahnya juga.
“gimana, kalian tadi bisa ngerjain kan?”tanya aya
pada isti, anak kelas 1F yang rumahnya tidak jauh dari rumahnya.
“alhamdulillah aku tadi bisa tapi ada satu belum
aku isi, tadi yang nomer 25 itu lho”.
Begitulah setiap pulang sekolah yang dibahas adalah
jawaban dari soal – soal ulangan yang baru saja mereka kerjakan. Bersambung ...............