Pages

Rabu, 26 November 2014

Episode 2
Hari senin seusai upacara bendera, kepala sekolah mengumumkan beberapa pengumuman penting, diantaranya adalah pengumuman siapa peringkat 3 besar pararel, artinya akan diumumkan 3 anak yang nilainya tertinggi di antara anak – anak kelas 1 secara keseluruhan, dari kelas 1A- 1G, dan tanpa disangka cahaya firdausia mendudukan peringkat 1 pararel, dari ihak sekolah memberikan masing – masing bingkisan cantik yang isinya buku dan pena, bea siswa bebas uang SPP juga diberikan pada masing – masing juara dengan jumlah sesuai peringkat masing – masing.
Guru yang menjadi idola setiap murid kelas 1 waktu itu adalah pak Ali Musyafak. Beliau guru mata pelajaran fiqih. Selain mengajar fiqih juga membina kegiatan ekstrakulikuler pramuka di madrasah. Setiap hari jum’at kami dibina olehnya dengan dibantu beberapa kakak senior. Anak – anak kelas satu diwajibkan mengikuti ektrakulikuler pramuka, jadi aya dkk juga mengikuti apa yang menjadi kewajibannya. Pada awalnya memang terasa berat, gimana gak berat disaat harusnya bisa istirahat dirumah, eh kita malah disuruh datang ke sekolah, panas terik mentari kadang membuat rasa malas yang teramat sangat.
“siapa diantara adik – adik disini yang ingin masuk jadi regu inti?” tanya kakak pembina
“saya kak” jawab kami
“tolong yang berniat melanjutkan sampi jadi regu inti keluar dari barisan!”
Aya, hesti, lina, vina  maju keluar barisan dan membuat barisan baru disamping kanan.
Dengan penuh keyakinan aya berada di barisan paling depan.
Hari ini ujian TKK, ada beberapa tes yang harus kami ikuti. Ada ujian memasak, menjahit, menaksir(tapi bukan menaksir orang lho…), menabung, menyanyi dll. Ketika ujian menjahit aya paling meragukan untuk selanjutnya bisa lolos, karena waktu itu kami dikasih benang dan jarum dan disuruh membawa baju seragam pramuka ganti, pertama kancing di baju disuruh copot semua, kami terbengong, apa coba maksudnya kemarin disuruh cepet – cepet bawa seragam pramuka yang baru, eh sekarang malah suruh nyopot kancingnya. Dan instruksi kedua kami disuruh memasukkan benang jarum.
“aduh susah sekali sih masukin benangnya” ungkap aya pada teman sebelahnya.
“pelan – pelan donk ay, sabar, pasti bisa”
“ini udah pelan – pelan dan sabar, tapi tetep aja gak bisa masuk benangnya, gimana donk”.
“pinjem gunting sana sama kak tyo”
“gak ah aku malu”
“ada apa ini, kok dari tadi kakak perhatikan kalian sedang berdiskusi, gimana ada yang bisa dibantu?”
“5 menit lagi waktu habis”
“ayo aya, tinggal kamu nih yang belum selesai”
“iiiiya kak”
“sini kakak bantu”kak Faiz akhirnya turun tangan.
“oh akhirnya bisa juga, terima kasih ya kak!”.

“iya sama – sama”. .......  bersambung.

0 komentar:

Posting Komentar